Kuliner Suku Sawang

Ada kebanggaan yang tersirat dari ucapan pria berusia 71 tahun itu begitu mendengar saya mengapresiasi kelenturan penari ancak di gelangang Kampong Laut malam itu. Tidak seperti ritual maras taun, ritual muang jong seperti undangan yang hadir tidak mencapai kuorum.

Namun Budin merasa bangga melihat banyak antusias mereka yang menonton. “ Orang suku sekak memang mudah tersanjung” kata temanku mendengar ceritaku. Istilah kami ‘gampang makan anjong’. Kalau pentas budaya melayu seperti ini sudah pasti panitia menggerutu.

Aku masih ingat bagaimana Ketua Panitia Belitong Exotic di Senayan, Jakarta marah begitu melihat banyak pejabat tidak berada di depan panggung budaya. Tapi, penggelar ritual muang jong malam itu tidak. “ Kaos kami ada yang hitam ada yang hijau. Kalau hijau itu anggaran tahun 2013, yang hitam tahun 2012”, kata Pak Deris, tokoh pelestari tradisi suku sawang menjelaskan.

Terlepas dari kualitas penyelenggaraan, Maras Taun dan Muang Jong merupakan dua simbol penting bagi peradaan di pulau Belitong. Jika maras taun identik dengan budaya pertanian ala orang darat, maka muang jong identik dengan budaya maritim orang laut, spesifiknya suku sawang.

Banyak yang mengenal suku sawang dengan sebutan suku juru atau suku sekak. Namun mereka enggan disebut suku sekak, karena konatasi jelek. Sekak menurut Budin sekak merujuk pada cara membuka teripang, disekak berarti merenggang cangkang.

Gamat, teripang, selak batu, timong, keremis merupakan sebagian dari hewan laut yang melindungi diri dengan cangkang. Jenis teripang yang biasanya hidup diantara karang-karang laut ini adalah makanan favorit suku sawang dan orang-orang pesisir.

Ada trik tersendiri menjadikan teripang sebagai makanan. Untuk melepaskan daging dari cangkang harus dilakukan dalam air. Akan sulit mencongkel cangkang kalau tidak dalam air.

Suku sawang paham betul mengolah makanan seperti ini. Mungkin ini yang membedaya suku sawang dengan suku lanun, suku bugis dan suku maritim lain. Suku sawang mengenal banyak jenis-jenis teripang sebagai sumber makanan sedang suku maritim lebih memandang ikan sebagai sumber pangan.

Tampaknya suku sawang tidak terbiasa mengolah makanan dengan diawetkan. Rusip , Pekasam atau bakasang atau mengolah lewat permentasi jarang mereka lakukan. Mungkin karena mereka menganggap pesisir laut masih kaya sumber makanan.

Sekaligus membuktikan, orientasi pangan mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Karena itu perburuan mereka lebih selektif dan tidak eksploitatif. Tidak pernah terdengar ada suku sawang yang mengebom ikan untuk meraup keuntungan.

Memahami cara suku sawang mengolah teripang untuk makanan, memberikan pemahaman kita bahwa pengelolaan wilayah pesisir secara tradisional yang selekti dan tidak eksploitatif bukan hanya mendorong upaya pelestarian tetapi juga menghidupkan kembali kebudayaan maritim yang identik dengan isu pembangunan wilayah kepulauan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.

Bisa jadi, nasib suku sawang tak jauh berbeda dengan duyung yang mereka jadikan sahabat penunjuk keberuntungan. Seperti halnya duyung, hidupnya bergantung pada rumput-rumput laut.

Terkadang ikan duyung juga terbuai dengan kecukupan makanan sampai-sampai tidak menyadari kalau air laut sudah surut. Alhasil, mereka terdampar kekeringan. Kepada mereka yang ikhlas saja, duyung selamat dikembalikan ke laut *)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *